Kamis, 20 Oktober 2016



PROLOG

Pandanganku tak beralih dari sekelompok anak-anak perempuan yang memakai topi koki di atas kepala mereka. Tingkah mereka yang serius menekuni masakan masing-masing membuatku tersenyum. Jumlah mereka ada delapan orang. Ada yang memasak nasi goreng, telur ceplok, mi goreng, juga mengaduk-aduk adonan kue. Ini membuatku flashback. Teringat pengalaman semasa kecil yang menyenangkan, bersama teman-teman yang beraneka ragam wataknya. Aku tersenyum—sampai berbunyi bahkan. Mengingat kepolosan anak-anak yang tertanam padaku dan teman-temanku dulu.
            Sudah berlalu. Sekarang aku telah menaklukkan semuanya.
            “Bu Dania?” seseorang memanggil namaku, memecah semua ingatan tadi. Aku menoleh kepadanya—yang merupakan asistenku, dengan ekspresi “Ada apa?”.
            “Kenapa anda tersenyum sendiri melihat anak-anak ini?” asistenku bertanya, mungkin dia penasaran. Aku hanya menggeleng, tapi terus tersenyum. Asistenku menilik, “Boleh saya tahu?”
            “Tidak ada apa-apa, Veronic. Cuma teringat sesuatu yang lucu,” aku menjawab pendek. Tak ingin menjelaskan panjang lebarnya.
            “Cerita lucu apa, Bu?” ternyata Veronica tidak puas dengan jawabanku.
            “Sudahlah, itu tidak penting. Oh ya, ngomong-ngomong, kau sudah siapkan ikan hidupnya, kan?” tanyaku memastikan.
            “Aku sudah menelepon temanku, Bu. Dia akan datang membawa ember penuh ikan-ikan gurame, tentu saja masih hidup. Tapi aku heran, apa benar tindakan kita menyuruh anak-anak ini menaklukkan ikan gurame hidup-hidup untuk di masak? Maksudku, mereka kan, masih berumur 10-12 tahun. Aku pikir mereka tidak akan berani, bahkan untuk menyentuhnya saja. Tahulah anak-anak perempuan, bu. Penggeli. Beda dengan anak laki-laki,” Veronic menutur jujur.
            “Kamu jarang memperhatikan mereka, Veronic. Paling hanya sekali atau dua kali, meminta mereka untuk memanggilku, sekalian memperhatikan pekerjaan mereka. Kamu lebih banyak duduk di kantor, menunggu e-mail atau telepon penting. Aku kenal mereka. Murid-muridku ini beda dengan anak perempuan kebanyakan. Mereka seperti lelaki. Pantang menyerah, tegar, dan pemberani. Aku yakin, mereka tidak akan takut menyentuh ikan hidupnya nanti. Paling-paling, cuma satu orang saja yang terlihat geli. Makanya, aku memilih tantangan di level 10 nanti untuk memasak ikan hidup. Percayalah,” aku meyakinkan asistenku itu. Memang benar, Veronic jarang berinteraksi dengan murid-muridku. Pernah sesekali, tapi hanya meminta mereka untuk memanggilku. Atau menyuruh membelikan sesuatu (Veronic memang malas keluar dari gedung kecil ini). Di saat itu mungkin dia juga menanyakan atau mengobrol beberapa hal dengan murid-muridku.
            Veronic mengangguk. Kami berdua mengisi hening dengan melihat anak-anak itu. Saling mengusili, tertawa satu sama lain. Masa anak-anak yang indah.
            Tiba-tiba suara Teett terdengar dari lantai satu. Anak-anak menoleh, terkejut, menghentikan kegiatan mereka. Aku dan Veronic saling pandang. Veronic—tanpa disuruh—bergegas turun ke bawah, melihat siapa yang datang. Tak lama kemudian, asistenku itu datang, dengan membawa sebuah kotak berbungkus yang di atasnya ada secarik amplop putih yang di lem.
            Aku mengernyit. Bermaksud bertanya, “Dari siapa?” Veronic hanya balas mengangkat bahu, menatap kotak berbungkus itu. “Aku tak tahu. Saat aku membuka pintu tadi, hanya ada kotak dan amplop ini. Tidak ada tukang pos atau sebagainya. Disini juga tidak tertera nama pengirimnya,” Veronic meletakkan kotak berbungkus itu. Kotak itu cukup besar, kira-kira Rice Cooker muat masuk ke dalamnya. Aku mengecek seluruh kotak, setelah menyuruh anak-anak kembali bekerja. Memang tidak ada nama dan alamat si pengirim.
            “Ada-ada saja pengirimnya. Melakukan adegan seperti di novel-novel,” aku berkomentar, sambil membuka lem yang merekat pada amplop. Dulu, aku juga pernah mengalami seperti ini, saat usiaku 10 tahun. Kukira isinya bom. Padahal, itu hanya ulah iseng adikku. Amplop terbuka, dan seperti dugaanku, ada surat. Aku lekas membacanya : Kepada bekas muridku yang saat ini tengah merintis karier yang hebat. Dari guru kebangaannya, Ummi Damih.
            Aku tertegun. Alamak… apa aku tidak bermimpi? Ini… Ini dari Ummi Damih! Setelah sepuluh tahun lamanya tidak berjumpa, dan kini aku menerima surat dari Ummi Damih? Ya Tuhan, ini benar-benar kejutan yang menyenangkan.
            “Siapa Ummi Damih yang kausebut itu Bu?” Veronic bertanya, penasaran. Satu-dua anak juga memperhatikan kami, meskipun banyak juga yang serius menekuni pekerjaannya. Aku terus tersenyum, lekas membaca surat itu. Setelah membaca surat, aku kemudian tak sabaran membuka kotak berbungkus itu. Aku menganga melihat isinya. Ya ampun! Komik buatanku! Ternyata Ummi Damih membuatnya menjadi buku!
            Aku mengamati komik itu. Veronic ikut mengamati, dia terus penasaran. Iya, ini komik yang kubuat sendiri. Girls Cooking School judulnya. Padahal aku tidak berharap ini dijadikan buku. Membuka cepat lembaran-lembarannya.
            “Ummi Damih curang, membukukannya tanpa bilang-bilang padaku, sampai di jual pula di Singapura,” aku bergumam, tidak kesal sepenuhnya. Aku malah kegirangan mendapat hadiah ini.
            “Bu Dania, ayolah katakan apa itu dan siapa Ummi Damih yang kau sebut terus menerus?” Veronic memaksa.
            Aku tertawa. “Aku pernah belajar masak dengan Ummi Damih itu, Veronic. Dia asalnya dari Arab Saudi. Kami sudah 10 tahun tidak berjumpa. Makanya aku sangat senang mendapat surat dan hadiah ini.” Lalu aku memberikan komiknya, “Dan komik ini aku yang buat dulu. Tapi Ummi Damih membuatnya jadi buku, dan menjualnya di toko buku Singapura—dia memberitahuku di surat,” jelasku.
            Veronic manggut-manggut. Lantas membaca selembar demi selembar. “Astaga bu Dania, aku tak tahu kau tidak hanya berbakat memasak, tapi juga menggambar. This is awesome!” Veronic memuji, yang kurasa terlalu berlebihan. Aku menyikut sikunya, sok merengut.
            “Ibu kan, pintar masak, kok di masukkan ke kursus memasak?” Veronica bertanya. “Boleh aku tahu bagaimana ceritanya?”
            Aku tersenyum menatap Veronic. Melirik jam sekilas. Pukul 10.00. Waktu untuk anak-anak mengumpulkan masakan mereka adalah pukul sebelas. Lagipula hari ini tak ada undangan interview ataupun iklan, jadi kurasa tak masalah bercerita sedikit.
           
***
Sepuluh tahun yang lalu. Minggu pagi.
            Hari ini, aku dan Bunda bersiap         untuk pergi ke Kursus Memasak Perempuan yang terletak di pinggir jalan kota. Sahabatku, Rara, juga ikut pergi kesana. Kami naik bersama di angkutan umum. Aku paling malas naik angkutan umum, bikin greget saja. Lajunya minta ampun. Mengklakson truk-truk besar yang kadang tak mau memberi jalan. Memotong seenaknya. Pun mengerem sesuka hati. Mau apa lagi, ayahku sedang bawa mobilnya ke luar kota. Acara dinas. Banyak juga kendaraan lain yang mengklakson marah, kesal dengan kelakuan supirnya. Apalagi aku, makin sebal saat melihat supirnya menyetir sambilan menghitung uang. Aku sangat penggamang. Aduh, tidak bisakah menghitung uangnya saat berhenti aja? Betul-betul tidak sabaran.
            Kursus Memasak Perempuan itu tidak jauh. Sepuluh menit kemudian, kami tiba disana. Aku dan Rara turun lebih dulu. Bunda segera membayar. Aku menatap kedepan, sebuah toko kelontong khas Cina. Ini… Kursusnya? Aku pandang-pandangan dengan Rara, penuh ekspresi bingung. Bunda kemudian menyela, “Bukan ini, Sayaang… Ini Cuma toserba. Nah, Kursus Memasak Perempuan itu ada di belakang toko ini. Ayo ikut Bunda,” Bunda merangkul kami. Menunjuk lorong kecil di sebelah toserba itu. Kami berjalan, dan lima meter kemudian, terlihatlah bangunan yang tak terlalu lebar. Hanya menyita dua hektar tanah. Tapi bertingkat. Pada balkonnya ada spanduk bertuliskan “Girls Cooking School”. Aku suka dengan style bangunan ini. Lucu, seperti toko kue di kartun yang pernah kutonton. Ada renda warna-warni di atasnya. Meski bangunannya tak terlalu lebar, tapi lumayan. Pintunya seperti pintu Bookstore di kota, terbuat dari kaca. Tergantung kertas bertuliskan Open, kurasa kalau kertasnya di balik terlihat tulisan Close.
Bunda mengucapkan salam, seraya membuka pintu kaca sebelum seorang wanita menjawab. Aku dan Rara mengekor masuk, segera di sergap oleh hawa AC menyejukkan. Ruangan depannya tak terlalu besar. Seorang wanita kemudian datang dari kamar kecil. Wanita itu lebih tinggi dari Bunda, berkerudung panjang putih. Wajahnya ‘Aroby. Dia mempersilakan kami duduk. Bilang akan membawakan minum sebentar. Bunda sudah melarangnya supaya tidak repot-repot. Wanita itu menjawab “Jangan sungkan-sungkan.” Saat dia bilang begitu, logatnya berbeda dengan orang Indonesia lainnya.
Rara segera menganalisis—meniru Detective Conan kesukaannya. “Ibu itu orang Arab asli. Sepertinya dia imigran,” berbisik padaku. Aku tersenyum. Sepertinya Rara benar.
Aku memeriksa ruangan ini. Ada foto wanita itu bersama seorang laki-laki dan seorang anak kecil, laki-laki juga. Aku bisa tebak, itu pasti suami dan anaknya.
Tak lama kemudian wanita itu datang dengan baki berisi tiga gelas kopi. “Maaf menunggu lama.” Bunda langsung mengalihkan perhatiannya dari ponsel—mungkin ada pesan masuk dari Ayah. “Ayo, diminum. Sebelum dingin,” Wanita itu menatap aku dan Rara yang matanya liar menatap sekeliling. Aku dan Rara cepat mengangguk, berterimakasih. Tanganku menyentuh permukaan gelas. Seketika langsung terperanjat. Panas. Kalau begini, lebih baik tunggu dingin saja.
Wanita itu duduk di kursi depan kami. Bertanya ramah tentang alamat dan nama kami. Bunda menjawab sopan. Kemudian wanita itu manggut-manggut. Berbagai basa-basi di luapkan. Jarum panjang jam menunjuk ke angka sebelas. Aku menggerutu dalam hati. Kenapa orang dewasa sukanya basa-basi sih? Tidak pernah to-the-point!! Aku melirik Bunda dan wanita Arab itu dengan muka kesal. Padahal jam segini waktuku untuk menonton kartun kesukaan.
Sepuluh menit kemudian, basa-basi selesai. Akhirnya. Aku menghela napas.
“Jadi, saya datang kesini mau memasukkan anak saya dan temannya untuk kursus disini. Mereka sama-sama tidak bisa memasak. Anak saya bahkan takut menyalakan kompor,” Bunda menjelaskan pendek, tertawa ringan, menunjukku dan Rara.
Wanita Arab itu tersenyum. Meski aku cuek, aku sedikit-sedikit mendengar percakapan Bunda dengan wanita itu, dan mendengar nama wanita itu. Damih Abu Salsabila. Begitu yang kudengar.
“Kenapa takut menyalakan kompor, hm?” wanita Arab itu menatapku, bertanya, sambil tersenyum. Ekspresinya beda dengan orang-orang lain ketika tahu aku takut menyalakan kompor. Biasanya orang-orang memasang wajah lucu atau apalah itu yang menurutku menyebalkan. Tapi wajah wanita ini beda, tidak menyebalkan, malah menyenangkan. Aku nyengir-nyengir, gagap menjawab. “Takut meledak saja…” suaraku terdengar pelan. Lantas garuk-garuk kepala.
“Kalau kamu? Kenapa tidak bisa masak?” kali ini wanita Arab itu bertanya pada Rara.
Rara menajawab datar. “Tidak tahu.” Aku spontan tertawa mendengar jawaban Rara, tapi segera kutahan. Rara memang begitu, dia orang yang tak peduli sekitar, sampai tak peduli apa kesalahannya dalam memasak. Dia orang yang cuek dalam hal apapun, kecuali jika menyangkut tentang kesukaannya. Seperti musik, dan penyanyi favoritnya—Harris J. Aku bisa tahu apa kesalahannya—kami pernah masak bareng (dan selalu berakhir miris). Seperti yang kukatakan tadi : selalu cuek dan juga pelupa. Apa telurnya sudah dicuci bersih? Atau sudah di beri garam? Dia lupa dan cuek melakukannya. Saat aku mengkritik, “Kau suka cuek dan lupa, Ra!” Sahabatku itu langsung membalas, “Daripada kau, penakut.” Rara orang sensitif, apalagi kalau musiknya dihina. Aku memang penakut, tapi setidaknya aku masih peduli dengan sekitar.
Karena itu, mamanya Rara setuju dengan usul Bundaku untuk memasukkan kami kursus masak. Toh, lagipula biayanya tidak terlalu besar. Apalagi orangtuanya Rara cukup berada.
“Tak semua anak sama, Bu. Karakter mereka bermacam-macam. Terkadang itu ada untungnya juga,” wanita Arab itu meyakinkan Bunda, seolah bilang “Tidak usah malu punya anak seperti itu.” Aku tersinggung dalam hati.
“Jadi, kalian berdua boleh mulai kursus besok. Sudah ada seorang anak yang juga ikut kursus. Dia lebih tua dari kalian. Namanya Shafira. Kelas enam,” wanita Arab itu menatapku berdua.
“Dia ada disini?” Bunda bertanya.
“Sudah pulang tadi satu jam yang lalu. Hari Minggu kursus di mulai jam setengah delapan. Hari Senin sampai Kamis dimulai jam 15.00 WIB. Hari Jum’at kursus libur. Dan masuk lagi hari Sabtu pada jam dua siang.” Di bagian penyebutan huruf H, nadanya seperti menyebut H pedas huruf hijaiyah.
“Lho, kok, hari Jum’at libur? Malah hari Minggu kursus?” Bunda mengernyitkan alis, heran. Iya sih, mayoritas dimana-mana kegiatan atau pekerjaan libur di hari Minggu.
“Hari raya orang Islam adalah hari Jum’at kan, Bu? Jadi saya memuliakan hari itu. Hari Minggu juga libur sebenarnya. Tapi Shafira membuat permintaan khusus, supaya dia juga kursus memasak di hari Minggu.” Saat mengatakan huruf S, seperti mengucapkan huruf Shod hijaiyah. Fasih sekali. Dari sini, percakapan emak-emak di mulai lagi, berlangsung selama setengah jam. Pukul 11.45 barulah kami pulang. Itu juga karena ada wanita yang kira-kira berumur dua puluh tahunan datang. Imigran dari Jepang—Rara membisikkan analisisnya lagi. Sepertinya wanita Arab itu mengenal akrab orang Jepang itu, bahkan mungkin teman serumah. Bunda berpamitan pada wanita Arab itu dan wanita Jepang. Begitu keluar dari rumah kini hawa AC yang menyerang. Kota Medan memang sering beriklim panas. Makanya setiap rumah penduduknya wajib memiliki kipas angin. Adikku sampai merengek minta AC setengah PK di kamarnya sendiri.
Pikiranku terbuyar. Bunda berhasil menyetop angkot. Kami segera naik. Meninggalkan Kursus Memasak Perempuan.
“Gang Karya nomor satu ya, Bang.”
***
“Kak Dania jadi kursus masak, ya?” Hafiz menyambut di depan pintu, bertanya. Dari wajahnya terlihat mimik senang. Entah senang aku akan segera pandai memasak setelah masuk kursus atau senang kakaknya akan pergi-pergi kursus nanti.
            “Iya,” aku menjawab datar, membanting tubuh di sofa. Hawa AC segera menyelimuti badan.
            “Kenapa? Hafiz mau ikut kursus juga?” Bunda melirik Hafiz, tersenyum. Ikut duduk di sofa, melepas kaus kaki.
            “Ogah, ah. Hafiz kan udah mahir masak. Lagipula itu, kan, khusus Kursus Memasak Perempuan,” Hafiz mengambil ponsel Bunda, kemudian memainkannya di sofa. “Buat apa pula pulang sekolah langsung kursus? Bikin capek. Mending main sepeda sama teman-teman.”
            Bunda tertawa. Aku menatap Hafiz kesal. Sebenarnya aku juga tidak ingin kursus. Ayah yang mengusulkannya.
            Sebenarnya penyebab aku dimasukkan ke kursus memasak itu adalah Hafiz. Dua hari yang lalu, Bunda pulang agak lama, dan tidak memasak untuk siang. Lauk sarapan yang tadinya masih sisa empat buah tempe goreng, disikat habis oleh Hafiz. Hobinya memang makan. Hafiz sebetulnya pandai memasak, tapi entah kenapa siang itu dia meminta aku yang masak. “Aku udah terlanjur lemas! Nggak ada tenaga buat masak!” ujarnya. Aku menepuk dahi. Padahal dia baru saja makan setengah jam yang lalu.
            Terpaksa aku meninggalkan kertas gambarku—yang semulanya aku mau membuat tokoh gambar baruku. Aku uring-uringan menuruti Hafiz—dia teriak-teriak merengek dan memaksaku yang masak. Bukan apa, aku takut menyalakan kompornya. Tapi Hafiz memaksaku terus. Aku menukas, “Sebentar, ngumpulin keberanian dulu.” Hafiz menepuk dahinya. “Ya ampun, cuma mau ngidupin gas aja mesti ngumpulin keberanian dulu?”
            “Hafiz! Gimana kalau aku salah tekan, terus gasnya meledak?” aku membuat pertimbangan.
            “Kak Dania yang salah, kenapa salah tekan,” Hafiz menjulurkan lidah.
            “Kamu yang tanggung jawab ya, jika itu terjadi!” aku membuat pertimbangan lagi, sebal. Sebenarnya menyesal juga mengatakan itu. Karena ucapan, kan, bisa jadi do’a! Dalam hati aku bergegas berdo’a-do’a. Semoga tidak terjadi… Semoga tidak terjadi.
            “Di dorong dulu tombolnya, baru di putar,” Hafiz memberitahu, mungkin takut juga kalau aku salah tekan atau memutar.
            Tanganku mengulur gemetar, lalu menyentuh permukaan tombol penyala kompor. Menatap Hafiz sesekali. Aku benar-benar takut. Apalagi jika saat mendengar suara gasnya berhasil di nyalakan. Seperti suara meledak begitu. Kompor kami hanya kompor biasa, bukan kompor yang terbuat dari stainless steel atau kompor dengan style keren inovasi terbaru lainnya.
Aku memegang gagang tombol penyala kompor. Menatap Hafiz lagi. Kali ini wajah Hafiz antusias. Aku mengangguk. Takut-takut mendorong tombolnya kedepan. Bersiap memutarnya dengan wajah penuh khawatir. Jariku bergerak gemetar.
DHUAR!
“Mamak!!” aku berteriak spontan menutup telinga dan memejamkan mata. Merunduk. Sejurus kemudian Hafiz tertawa terpingkal-pingkal. Aku mendelik sebal. Dia pastilah menertawaiku. “Gitu aja takut! Cemen!” Hafiz meledekku di sela-sela tawanya.
“Hafiz! Kamu jangan bikin jantungku copot dengan suara ledakanmu itu!” aku berteriak sebal. Hafiz tak peduli, masih tertawa. “Mamak!” Hafiz bahkan meniru suaraku tadi, terkikik lagi.
“Hei, hei. Ada apa ini?” Tiba-tiba sosok Ayah muncul di belakang kami, bersama Bunda di belakangnya pula. “Bertengkar lagi?”
Aku segera mengadu, “Hafiz, nih, Yah, selalu ngusilin Dania!”
“Habis, kak Dania takut amat ngidupin kompor!” Hafiz membuat wajah seperti wajah gimana gitu, seolah-olah dia mengatakan “Masa’ udah besar takut ngidupin kompor!”. Dan aku selalu kesal melihat wajah seperti itu.
“Takut ngidupin kompor? Kenapa?” Ayah bertanya lagi, mengerutkan alis.
“Takut meledak kata dia.” Hafiz menjawab, masih geli.
Ayah dan Bunda saling pandang kemudian, saling melontar senyum geli.
“Kamu sih, suka baca komik Detective Conan. Ayah rasa, ketakutanmu itu muncul karena kebanyakan baca komik Detective Conan.” Ayah meletakkan kantong-kantong belanja di meja. “Seorang psikolog mengatakan, ketakutan seseorang terkadang muncul di sebabkan oleh hal-hal yang sering di jumpainya setiap hari, yang mengandung unsur misteri atau horror.”
            “Mana mungkin, Yah. Cerita Detective Conan Cuma seputar cerita detektif-detektif gitu kok. Nggak ada hantu-hantunya. Paling juga tentang pembunuhan,” aku berusaha mengelak.
            “Ada juga kok hantunya,” Hafiz mengacak pinggang.
            “Dan pembunuhan juga termasuk kategori horror, kan?” Ayah mengangkat telunjuk.
 “Sudah. Mulai sekarang, setiap ke bookstore, tidak boleh lagi membeli komik-komik horror ataupun misteri. Mengerti?”
Bunda yang daritadi hanya menonton perdebatan kami tersenyum-senyum. “Yasudah, ayo makan dulu. Kalian tadi hendak memasak makan siang kan? Maaf ya, Bunda tadi ada rapat komite di sekolah, di tambah lagi ketemu Ayah di jalan. Jadi beli nasi bungkus aja.” Bunda mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik besar. Nasi bungkus. “Yuk, makan dulu.”
Aku mengangguk. Tanpa disuruh, aku sudah tahu apa tugasku setelah ini.
***
Malam harinya. Pukul Sembilan malam.
            Usai sholat Isya, makan siang (yang di lanjutkan dengan cuci piring), aku sudah di tempat tidur. Membaca komik detective Conan yang sudah berulang kali kubaca sebenarnya. Tapi sudah dua bulan yang lalu ayah dan bunda tak mengajak kami ke bookstore di kota. Mungkin memang sudah takdirku hanya memiliki lima buah komik Detective Conan. Padahal impianku ingin punya lemari besar yang hanya berisi koleksi komik detektif itu.
            Aku melirik Hafiz. Dia juga tengah membaca komik Detective Conan. Sebenarnya Hafiz juga suka. Komik-komik itu memang milikku, aku oke-oke saja kalau dia mau membacanya. Hafiz kalau ke bookstore suka beli novel anak. Tapi aku  sebalnya Hafiz kalau baca suka kasar. Cara membalik halaman, membuka kover, meletakkan kembali di rak. Sering juga membacanya sambil makan atau minum susu. Jelas saja pernah juga jatuh sebutir nasi atau setetes susu ke komiknya. Saat itu aku langsung mengomel-ngomel.
            “Hafiz, Dania. Jangan lama-lama tidurnya ya. Batasnya sampai jam setengah sepuluh. Kalian soalnya paling lama bangun.” Bunda tiba-tiba nongol di kusen pintu yang terbuka.
            “Iya, ma,” aku menjawab. Maksudku, “Tenang saja, Ma.”
            Kemudian Bunda menutup pintunya. Sementara aku dan Hafiz terus terfokus kepada komik masing-masing.
            Lima menit kemudian, Hafiz terlihat menguap sambil merentangkan tangan tinggi-tinggi. Lalu meletakkan komik di rak. Lantas membenamkan diri di selimut tebal. Wajahku langsung ketakutan. Kalau melihat Hafiz sudah mengantuk, wajahku pasti cemas. Aku yang paling lama tidur jadinya. Apalagi tadi siang, seusai makan, aku langsung tidur. Pasti jadi susah tidur nih.
            “Ih, Hafiz cepat amat tidurnya. Macam anak-anak saja,” aku meledek.
            “Aku kan memang  anak-anak, kak.” Suaranya tenggelam di bawah benaman selimut.
            “Kamu besok bisa bangun cepat lho, kalau cepat tidur. Terus, kamu nggak punya alasan terlambat kalau pengen bolos sekolah,” aku mengatakan itu supaya dia tidak tidur. Hafiz kan paling malas sekolah. Dia sering bangun terlambat, terus untuk memberi alasan, Hafiz bilang takut kena marah gurunya karena terlambat. Padahal gurunya nggak galak-galak amat lho.
            “Iya. Aku anak yang baik kak. Menuruti cakap Bunda supaya tidur cepat.”
            Aku mendengus. Hafiz bermaksud menyindirku ya?
            Sejenak lengang di kamar. Aku membaca komik lagi. Persis saat aku sedang membaca komik dengan adegan menemukan mayat, kepalaku segera di penuhi baying-bayang seram, memunculkan ketakutan lagi. Sepertinya yang Ayah katakan tadi siang benar. Aku meletakkan komik di rak. Kalau begini aku harus paksakan diri untuk tidur.
            Lima menit… Sepuluh menit… Lima belas menit… Dua puluh menit… Aku belum juga melakukan teleportasi ke dunia mimpi! Suara detak jam dinding di ruang tamu terdengar keras di antara senyap. Aku sudah memejamkan mata, berdo’a dan berusaha untuk tidur. Malah yang ada mengkhayal-khayal nggak jelas, bahkan bernostalgia.
            Tiba-tiba pintu kamar di buka. Aku menoleh sigap. Itu Bunda.
            “Kok belum tidur, Ni?” Bunda bertanya seraya mematikan lampu kamar. Seketika seluruh ruangan menjadi gelap. “Jangan hidupkan lampunya. Kan Bunda selalu bilang, lampu itu ada radiasi listriknya.”
            “Eh, jangan di matikan dulu ya, Bun, habis Dania belum bisa tidur. Tadi kan, Dania tidur siang,” aku memohon.      
            “Jadi mau tidur sampai kapan? Bisa-bisa kamu bangun kesiangan kan?” Bunda teguh pada pendiriannya.
            “Tapi Dania takut.”
            Bunda terdengar menghela napas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar