PROLOG
Pandanganku tak beralih dari sekelompok anak-anak perempuan yang memakai
topi koki di atas kepala mereka. Tingkah mereka yang serius menekuni masakan masing-masing membuatku tersenyum. Jumlah mereka ada delapan orang. Ada yang
memasak nasi goreng, telur ceplok, mi goreng, juga mengaduk-aduk adonan kue.
Ini membuatku flashback. Teringat
pengalaman semasa kecil yang menyenangkan, bersama teman-teman yang beraneka
ragam wataknya. Aku tersenyum—sampai berbunyi bahkan. Mengingat kepolosan
anak-anak yang tertanam padaku dan teman-temanku dulu.
Sudah berlalu. Sekarang aku telah menaklukkan semuanya.
“Bu Dania?” seseorang
memanggil namaku, memecah semua ingatan tadi. Aku menoleh kepadanya—yang
merupakan asistenku, dengan ekspresi “Ada apa?”.
“Kenapa anda tersenyum
sendiri melihat anak-anak ini?” asistenku bertanya, mungkin dia penasaran. Aku
hanya menggeleng, tapi terus tersenyum. Asistenku menilik, “Boleh saya tahu?”
“Tidak ada apa-apa,
Veronic. Cuma teringat sesuatu yang lucu,” aku menjawab pendek. Tak ingin
menjelaskan panjang lebarnya.
“Cerita lucu apa, Bu?”
ternyata Veronica tidak puas dengan jawabanku.
“Sudahlah, itu tidak
penting. Oh ya, ngomong-ngomong, kau sudah siapkan ikan hidupnya, kan?” tanyaku
memastikan.
“Aku sudah menelepon
temanku, Bu. Dia akan datang membawa ember penuh ikan-ikan gurame, tentu saja
masih hidup. Tapi aku heran, apa benar tindakan kita menyuruh anak-anak ini
menaklukkan ikan gurame hidup-hidup untuk di masak? Maksudku, mereka kan, masih
berumur 10-12 tahun. Aku pikir mereka tidak akan berani, bahkan untuk
menyentuhnya saja. Tahulah anak-anak perempuan, bu. Penggeli. Beda dengan anak
laki-laki,” Veronic menutur jujur.
“Kamu jarang
memperhatikan mereka, Veronic. Paling hanya sekali atau dua kali, meminta
mereka untuk memanggilku, sekalian memperhatikan pekerjaan mereka. Kamu lebih
banyak duduk di kantor, menunggu e-mail atau telepon penting. Aku kenal mereka.
Murid-muridku ini beda dengan anak perempuan kebanyakan. Mereka seperti lelaki.
Pantang menyerah, tegar, dan pemberani. Aku yakin, mereka tidak akan takut
menyentuh ikan hidupnya nanti. Paling-paling, cuma satu orang saja yang
terlihat geli. Makanya, aku memilih tantangan di level 10 nanti untuk memasak
ikan hidup. Percayalah,” aku meyakinkan asistenku itu. Memang benar, Veronic
jarang berinteraksi dengan murid-muridku. Pernah sesekali, tapi hanya meminta
mereka untuk memanggilku. Atau menyuruh membelikan sesuatu (Veronic memang
malas keluar dari gedung kecil ini). Di saat itu mungkin dia juga menanyakan
atau mengobrol beberapa hal dengan murid-muridku.
Veronic mengangguk.
Kami berdua mengisi hening dengan melihat anak-anak itu. Saling mengusili,
tertawa satu sama lain. Masa anak-anak yang indah.
Tiba-tiba suara Teett terdengar dari lantai satu.
Anak-anak menoleh, terkejut, menghentikan kegiatan mereka. Aku dan Veronic
saling pandang. Veronic—tanpa disuruh—bergegas turun ke bawah, melihat siapa
yang datang. Tak lama kemudian, asistenku itu datang, dengan membawa sebuah
kotak berbungkus yang di atasnya ada secarik amplop putih yang di lem.
Aku mengernyit.
Bermaksud bertanya, “Dari siapa?” Veronic hanya balas mengangkat bahu, menatap
kotak berbungkus itu. “Aku tak tahu. Saat aku membuka pintu tadi, hanya ada
kotak dan amplop ini. Tidak ada tukang pos atau sebagainya. Disini juga tidak
tertera nama pengirimnya,” Veronic meletakkan kotak berbungkus itu. Kotak itu
cukup besar, kira-kira Rice Cooker muat masuk ke dalamnya. Aku mengecek seluruh
kotak, setelah menyuruh anak-anak kembali bekerja. Memang tidak ada nama dan
alamat si pengirim.
“Ada-ada saja
pengirimnya. Melakukan adegan seperti di novel-novel,” aku berkomentar, sambil
membuka lem yang merekat pada amplop. Dulu, aku juga pernah mengalami seperti
ini, saat usiaku 10 tahun. Kukira isinya bom. Padahal, itu hanya ulah iseng adikku.
Amplop terbuka, dan seperti dugaanku, ada surat. Aku lekas membacanya : Kepada bekas muridku yang saat ini tengah
merintis karier yang hebat. Dari guru kebangaannya, Ummi Damih.
Aku tertegun. Alamak…
apa aku tidak bermimpi? Ini… Ini dari Ummi Damih! Setelah sepuluh tahun lamanya
tidak berjumpa, dan kini aku menerima surat dari Ummi Damih? Ya Tuhan, ini
benar-benar kejutan yang menyenangkan.
“Siapa Ummi Damih yang
kausebut itu Bu?” Veronic bertanya, penasaran. Satu-dua anak juga memperhatikan
kami, meskipun banyak juga yang serius menekuni pekerjaannya. Aku terus
tersenyum, lekas membaca surat itu. Setelah membaca surat, aku kemudian tak
sabaran membuka kotak berbungkus itu. Aku menganga melihat isinya. Ya ampun!
Komik buatanku! Ternyata Ummi Damih membuatnya menjadi buku!
Aku mengamati komik
itu. Veronic ikut mengamati, dia terus penasaran. Iya, ini komik yang kubuat
sendiri. Girls Cooking School judulnya. Padahal aku tidak berharap ini
dijadikan buku. Membuka cepat lembaran-lembarannya.
“Ummi Damih curang,
membukukannya tanpa bilang-bilang padaku, sampai di jual pula di Singapura,”
aku bergumam, tidak kesal sepenuhnya. Aku malah kegirangan mendapat hadiah ini.
“Bu Dania, ayolah
katakan apa itu dan siapa Ummi Damih yang kau sebut terus menerus?” Veronic
memaksa.
Aku tertawa. “Aku
pernah belajar masak dengan Ummi Damih itu, Veronic. Dia asalnya dari Arab
Saudi. Kami sudah 10 tahun tidak berjumpa. Makanya aku sangat senang mendapat
surat dan hadiah ini.” Lalu aku memberikan komiknya, “Dan komik ini aku yang
buat dulu. Tapi Ummi Damih membuatnya jadi buku, dan menjualnya di toko buku
Singapura—dia memberitahuku di surat,” jelasku.
Veronic
manggut-manggut. Lantas membaca selembar demi selembar. “Astaga bu Dania, aku
tak tahu kau tidak hanya berbakat memasak, tapi juga menggambar. This is
awesome!” Veronic memuji, yang kurasa terlalu berlebihan. Aku menyikut sikunya,
sok merengut.
“Ibu kan, pintar masak,
kok di masukkan ke kursus memasak?” Veronica bertanya. “Boleh aku tahu
bagaimana ceritanya?”
Aku tersenyum menatap
Veronic. Melirik jam sekilas. Pukul 10.00. Waktu untuk anak-anak mengumpulkan
masakan mereka adalah pukul sebelas. Lagipula hari ini tak ada undangan
interview ataupun iklan, jadi kurasa tak masalah bercerita sedikit.
***
Sepuluh tahun yang lalu. Minggu pagi.
Hari ini, aku dan Bunda
bersiap untuk pergi ke Kursus
Memasak Perempuan yang terletak di pinggir jalan kota. Sahabatku, Rara, juga
ikut pergi kesana. Kami naik bersama di angkutan umum. Aku paling malas naik
angkutan umum, bikin greget saja. Lajunya minta ampun. Mengklakson truk-truk
besar yang kadang tak mau memberi jalan. Memotong seenaknya. Pun mengerem
sesuka hati. Mau apa lagi, ayahku sedang bawa mobilnya ke luar kota. Acara
dinas. Banyak juga kendaraan lain yang mengklakson marah, kesal dengan kelakuan
supirnya. Apalagi aku, makin sebal saat melihat supirnya menyetir sambilan
menghitung uang. Aku sangat penggamang. Aduh, tidak bisakah menghitung uangnya
saat berhenti aja? Betul-betul tidak sabaran.
Kursus Memasak
Perempuan itu tidak jauh. Sepuluh menit kemudian, kami tiba disana. Aku dan
Rara turun lebih dulu. Bunda segera membayar. Aku menatap kedepan, sebuah toko
kelontong khas Cina. Ini… Kursusnya? Aku pandang-pandangan dengan Rara, penuh
ekspresi bingung. Bunda kemudian menyela, “Bukan ini, Sayaang… Ini Cuma
toserba. Nah, Kursus Memasak Perempuan itu ada di belakang toko ini. Ayo ikut
Bunda,” Bunda merangkul kami. Menunjuk lorong kecil di sebelah toserba itu.
Kami berjalan, dan lima meter kemudian, terlihatlah bangunan yang tak terlalu
lebar. Hanya menyita dua hektar tanah. Tapi bertingkat. Pada balkonnya ada
spanduk bertuliskan “Girls Cooking School”. Aku suka dengan style bangunan ini. Lucu, seperti toko
kue di kartun yang pernah kutonton. Ada renda warna-warni di atasnya. Meski
bangunannya tak terlalu lebar, tapi lumayan. Pintunya seperti pintu Bookstore
di kota, terbuat dari kaca. Tergantung kertas bertuliskan Open, kurasa kalau kertasnya di balik terlihat tulisan Close.
Bunda mengucapkan salam, seraya
membuka pintu kaca sebelum seorang wanita menjawab. Aku dan Rara mengekor
masuk, segera di sergap oleh hawa AC menyejukkan. Ruangan depannya tak terlalu
besar. Seorang wanita kemudian datang dari kamar kecil. Wanita itu lebih tinggi
dari Bunda, berkerudung panjang putih. Wajahnya ‘Aroby. Dia mempersilakan kami duduk. Bilang akan membawakan minum
sebentar. Bunda sudah melarangnya supaya tidak repot-repot. Wanita itu menjawab
“Jangan sungkan-sungkan.” Saat dia bilang begitu, logatnya berbeda dengan orang
Indonesia lainnya.
Rara segera menganalisis—meniru
Detective Conan kesukaannya. “Ibu itu orang Arab asli. Sepertinya dia imigran,”
berbisik padaku. Aku tersenyum. Sepertinya Rara benar.
Aku memeriksa ruangan ini. Ada
foto wanita itu bersama seorang laki-laki dan seorang anak kecil, laki-laki
juga. Aku bisa tebak, itu pasti suami dan anaknya.
Tak lama kemudian wanita itu
datang dengan baki berisi tiga gelas kopi. “Maaf menunggu lama.” Bunda langsung
mengalihkan perhatiannya dari ponsel—mungkin ada pesan masuk dari Ayah. “Ayo,
diminum. Sebelum dingin,” Wanita itu menatap aku dan Rara yang matanya liar
menatap sekeliling. Aku dan Rara cepat mengangguk, berterimakasih. Tanganku
menyentuh permukaan gelas. Seketika langsung terperanjat. Panas. Kalau begini,
lebih baik tunggu dingin saja.
Wanita itu duduk di kursi depan
kami. Bertanya ramah tentang alamat dan nama kami. Bunda menjawab sopan.
Kemudian wanita itu manggut-manggut. Berbagai basa-basi di luapkan. Jarum
panjang jam menunjuk ke angka sebelas. Aku menggerutu dalam hati. Kenapa orang dewasa sukanya basa-basi sih?
Tidak pernah to-the-point!! Aku melirik Bunda dan wanita Arab itu dengan
muka kesal. Padahal jam segini waktuku untuk menonton kartun kesukaan.
Sepuluh menit kemudian, basa-basi
selesai. Akhirnya. Aku menghela napas.
“Jadi, saya datang kesini mau
memasukkan anak saya dan temannya untuk kursus disini. Mereka sama-sama tidak bisa
memasak. Anak saya bahkan takut menyalakan kompor,” Bunda menjelaskan pendek,
tertawa ringan, menunjukku dan Rara.
Wanita Arab itu tersenyum. Meski
aku cuek, aku sedikit-sedikit mendengar percakapan Bunda dengan wanita itu, dan
mendengar nama wanita itu. Damih Abu Salsabila. Begitu yang kudengar.
“Kenapa takut menyalakan kompor,
hm?” wanita Arab itu menatapku, bertanya, sambil tersenyum. Ekspresinya beda
dengan orang-orang lain ketika tahu aku takut menyalakan kompor. Biasanya
orang-orang memasang wajah lucu atau apalah itu yang menurutku menyebalkan.
Tapi wajah wanita ini beda, tidak menyebalkan, malah menyenangkan. Aku
nyengir-nyengir, gagap menjawab. “Takut meledak saja…” suaraku terdengar pelan.
Lantas garuk-garuk kepala.
“Kalau kamu? Kenapa tidak bisa
masak?” kali ini wanita Arab itu bertanya pada Rara.
Rara menajawab datar. “Tidak
tahu.” Aku spontan tertawa mendengar jawaban Rara, tapi segera kutahan. Rara
memang begitu, dia orang yang tak peduli sekitar, sampai tak peduli apa
kesalahannya dalam memasak. Dia orang yang cuek dalam hal apapun, kecuali jika
menyangkut tentang kesukaannya. Seperti musik, dan penyanyi favoritnya—Harris
J. Aku bisa tahu apa kesalahannya—kami pernah masak bareng (dan selalu berakhir
miris). Seperti yang kukatakan tadi : selalu cuek dan juga pelupa. Apa telurnya
sudah dicuci bersih? Atau sudah di beri garam? Dia lupa dan cuek melakukannya.
Saat aku mengkritik, “Kau suka cuek dan lupa, Ra!” Sahabatku itu langsung
membalas, “Daripada kau, penakut.” Rara orang sensitif, apalagi kalau musiknya
dihina. Aku memang penakut, tapi setidaknya aku masih peduli dengan sekitar.
Karena itu, mamanya Rara setuju
dengan usul Bundaku untuk memasukkan kami kursus masak. Toh, lagipula biayanya
tidak terlalu besar. Apalagi orangtuanya Rara cukup berada.
“Tak semua anak sama, Bu. Karakter
mereka bermacam-macam. Terkadang itu ada untungnya juga,” wanita Arab itu
meyakinkan Bunda, seolah bilang “Tidak usah malu punya anak seperti itu.” Aku
tersinggung dalam hati.
“Jadi, kalian berdua boleh mulai kursus
besok. Sudah ada seorang anak yang juga ikut kursus. Dia lebih tua dari kalian.
Namanya Shafira. Kelas enam,” wanita Arab itu menatapku berdua.
“Dia ada disini?” Bunda bertanya.
“Sudah pulang tadi satu jam yang
lalu. Hari Minggu kursus di mulai jam setengah delapan. Hari Senin sampai Kamis
dimulai jam 15.00 WIB. Hari Jum’at kursus libur. Dan masuk lagi hari Sabtu pada
jam dua siang.” Di bagian penyebutan huruf H, nadanya seperti menyebut H pedas
huruf hijaiyah.
“Lho, kok, hari Jum’at libur?
Malah hari Minggu kursus?” Bunda mengernyitkan alis, heran. Iya sih, mayoritas
dimana-mana kegiatan atau pekerjaan libur di hari Minggu.
“Hari raya orang Islam adalah hari
Jum’at kan, Bu? Jadi saya memuliakan hari itu. Hari Minggu juga libur
sebenarnya. Tapi Shafira membuat permintaan khusus, supaya dia juga kursus
memasak di hari Minggu.” Saat mengatakan huruf S, seperti mengucapkan huruf Shod hijaiyah. Fasih sekali. Dari sini,
percakapan emak-emak di mulai lagi,
berlangsung selama setengah jam. Pukul 11.45 barulah kami pulang. Itu juga
karena ada wanita yang kira-kira berumur dua puluh tahunan datang. Imigran dari
Jepang—Rara membisikkan analisisnya lagi. Sepertinya wanita Arab itu mengenal
akrab orang Jepang itu, bahkan mungkin teman serumah. Bunda berpamitan pada
wanita Arab itu dan wanita Jepang. Begitu keluar dari rumah kini hawa AC yang
menyerang. Kota Medan memang sering beriklim panas. Makanya setiap rumah
penduduknya wajib memiliki kipas angin. Adikku sampai merengek minta AC
setengah PK di kamarnya sendiri.
Pikiranku terbuyar. Bunda berhasil
menyetop angkot. Kami segera naik. Meninggalkan Kursus Memasak Perempuan.
“Gang Karya nomor satu ya, Bang.”
***
“Kak Dania jadi kursus masak, ya?” Hafiz menyambut di depan pintu,
bertanya. Dari wajahnya terlihat mimik senang. Entah senang aku
akan segera pandai memasak setelah masuk kursus atau senang kakaknya akan pergi-pergi kursus nanti.
“Iya,” aku menjawab
datar, membanting tubuh di sofa. Hawa AC segera menyelimuti badan.
“Kenapa? Hafiz mau ikut
kursus juga?” Bunda melirik Hafiz, tersenyum. Ikut duduk di sofa, melepas kaus
kaki.
“Ogah, ah. Hafiz kan
udah mahir masak. Lagipula itu, kan, khusus Kursus Memasak Perempuan,” Hafiz mengambil ponsel Bunda, kemudian memainkannya di sofa. “Buat apa pula pulang sekolah langsung
kursus? Bikin capek. Mending main sepeda sama teman-teman.”
Bunda tertawa. Aku
menatap Hafiz kesal. Sebenarnya aku juga tidak ingin kursus. Ayah yang
mengusulkannya.
Sebenarnya penyebab aku
dimasukkan ke kursus memasak itu adalah Hafiz. Dua hari yang lalu, Bunda pulang
agak lama, dan tidak memasak untuk siang. Lauk sarapan yang tadinya masih sisa
empat buah tempe goreng, disikat habis oleh Hafiz. Hobinya memang makan. Hafiz
sebetulnya pandai memasak, tapi entah kenapa siang itu dia meminta aku yang
masak. “Aku udah terlanjur lemas! Nggak ada tenaga buat masak!” ujarnya. Aku
menepuk dahi. Padahal dia baru saja makan setengah jam yang lalu.
Terpaksa aku
meninggalkan kertas gambarku—yang semulanya aku mau membuat tokoh gambar
baruku. Aku uring-uringan menuruti Hafiz—dia teriak-teriak merengek dan
memaksaku yang masak. Bukan apa, aku takut menyalakan kompornya. Tapi Hafiz
memaksaku terus. Aku menukas, “Sebentar, ngumpulin keberanian dulu.” Hafiz
menepuk dahinya. “Ya ampun, cuma mau ngidupin gas aja mesti ngumpulin
keberanian dulu?”
“Hafiz! Gimana kalau
aku salah tekan, terus gasnya meledak?” aku membuat pertimbangan.
“Kak Dania yang salah,
kenapa salah tekan,” Hafiz menjulurkan lidah.
“Kamu yang tanggung
jawab ya, jika itu terjadi!” aku membuat pertimbangan lagi, sebal. Sebenarnya
menyesal juga mengatakan itu. Karena ucapan, kan, bisa jadi do’a! Dalam hati
aku bergegas berdo’a-do’a. Semoga tidak
terjadi… Semoga tidak terjadi.
“Di dorong dulu tombolnya,
baru di putar,” Hafiz memberitahu, mungkin takut juga kalau aku salah tekan
atau memutar.
Tanganku mengulur
gemetar, lalu menyentuh permukaan tombol penyala kompor. Menatap Hafiz sesekali. Aku
benar-benar takut. Apalagi jika saat mendengar suara gasnya berhasil di nyalakan.
Seperti suara meledak begitu. Kompor kami hanya kompor biasa, bukan kompor yang
terbuat dari stainless steel atau kompor dengan style keren inovasi terbaru lainnya.
Aku memegang gagang tombol penyala kompor.
Menatap Hafiz lagi. Kali ini wajah Hafiz antusias. Aku mengangguk. Takut-takut
mendorong tombolnya kedepan. Bersiap memutarnya dengan wajah penuh khawatir.
Jariku bergerak gemetar.
DHUAR!
“Mamak!!” aku berteriak spontan
menutup telinga dan memejamkan mata. Merunduk. Sejurus kemudian Hafiz tertawa
terpingkal-pingkal. Aku mendelik sebal. Dia pastilah menertawaiku. “Gitu aja
takut! Cemen!” Hafiz meledekku di sela-sela tawanya.
“Hafiz! Kamu jangan bikin
jantungku copot dengan suara ledakanmu itu!” aku berteriak sebal. Hafiz tak
peduli, masih tertawa. “Mamak!” Hafiz bahkan meniru suaraku tadi, terkikik
lagi.
“Hei, hei. Ada apa ini?” Tiba-tiba
sosok Ayah muncul di belakang kami, bersama Bunda di belakangnya pula.
“Bertengkar lagi?”
Aku segera mengadu, “Hafiz, nih, Yah, selalu ngusilin Dania!”
“Habis, kak Dania takut amat
ngidupin kompor!” Hafiz membuat wajah seperti wajah gimana gitu, seolah-olah
dia mengatakan “Masa’ udah besar takut ngidupin kompor!”. Dan aku selalu kesal
melihat wajah seperti itu.
“Takut ngidupin kompor? Kenapa?” Ayah bertanya lagi, mengerutkan alis.
“Takut meledak kata dia.” Hafiz
menjawab, masih geli.
Ayah dan Bunda saling pandang
kemudian, saling melontar senyum geli.
“Kamu sih, suka baca komik Detective Conan. Ayah rasa, ketakutanmu
itu muncul karena kebanyakan baca komik Detective
Conan.” Ayah meletakkan kantong-kantong belanja di meja. “Seorang psikolog
mengatakan, ketakutan seseorang terkadang muncul di sebabkan oleh hal-hal yang
sering di jumpainya setiap hari, yang mengandung unsur misteri atau horror.”
“Mana mungkin, Yah.
Cerita Detective Conan Cuma seputar cerita detektif-detektif gitu kok. Nggak
ada hantu-hantunya. Paling juga tentang pembunuhan,” aku berusaha mengelak.
“Ada juga kok
hantunya,” Hafiz mengacak pinggang.
“Dan pembunuhan juga
termasuk kategori horror, kan?” Ayah mengangkat telunjuk.
“Sudah. Mulai sekarang, setiap ke bookstore,
tidak boleh lagi membeli komik-komik horror ataupun misteri. Mengerti?”
Bunda yang daritadi hanya menonton
perdebatan kami tersenyum-senyum. “Yasudah, ayo makan dulu. Kalian tadi hendak
memasak makan siang kan? Maaf ya, Bunda tadi ada rapat komite di sekolah, di
tambah lagi ketemu Ayah di jalan. Jadi beli nasi bungkus aja.” Bunda
mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik besar. Nasi bungkus. “Yuk, makan
dulu.”
Aku mengangguk. Tanpa disuruh, aku
sudah tahu apa tugasku setelah ini.
***
Malam harinya. Pukul Sembilan malam.
Usai sholat Isya, makan
siang (yang di lanjutkan dengan cuci piring), aku sudah di tempat tidur.
Membaca komik detective Conan yang sudah berulang kali kubaca sebenarnya. Tapi
sudah dua bulan yang lalu ayah dan bunda tak mengajak kami ke bookstore di
kota. Mungkin memang sudah takdirku hanya memiliki lima buah komik Detective
Conan. Padahal impianku ingin punya lemari besar yang hanya berisi koleksi komik
detektif itu.
Aku melirik Hafiz. Dia
juga tengah membaca komik Detective Conan. Sebenarnya Hafiz juga suka.
Komik-komik itu memang milikku, aku oke-oke saja kalau dia mau membacanya.
Hafiz kalau ke bookstore suka beli novel anak. Tapi aku sebalnya Hafiz kalau baca suka kasar. Cara
membalik halaman, membuka kover, meletakkan kembali di rak. Sering juga
membacanya sambil makan atau minum susu. Jelas saja pernah juga jatuh sebutir
nasi atau setetes susu ke komiknya. Saat itu aku langsung mengomel-ngomel.
“Hafiz, Dania. Jangan
lama-lama tidurnya ya. Batasnya sampai jam setengah sepuluh. Kalian soalnya
paling lama bangun.” Bunda tiba-tiba nongol di kusen pintu yang terbuka.
“Iya, ma,” aku
menjawab. Maksudku, “Tenang saja, Ma.”
Kemudian Bunda menutup
pintunya. Sementara aku dan Hafiz terus terfokus kepada komik masing-masing.
Lima menit kemudian,
Hafiz terlihat menguap sambil merentangkan tangan tinggi-tinggi. Lalu
meletakkan komik di rak. Lantas membenamkan diri di selimut tebal. Wajahku
langsung ketakutan. Kalau melihat Hafiz sudah mengantuk, wajahku pasti cemas.
Aku yang paling lama tidur jadinya. Apalagi tadi siang, seusai makan, aku
langsung tidur. Pasti jadi susah tidur nih.
“Ih, Hafiz cepat amat
tidurnya. Macam anak-anak saja,” aku meledek.
“Aku kan memang anak-anak, kak.” Suaranya tenggelam di bawah
benaman selimut.
“Kamu besok bisa bangun
cepat lho, kalau cepat tidur. Terus, kamu nggak punya alasan terlambat kalau
pengen bolos sekolah,” aku mengatakan itu supaya dia tidak tidur. Hafiz kan
paling malas sekolah. Dia sering bangun terlambat, terus untuk memberi alasan,
Hafiz bilang takut kena marah gurunya karena terlambat. Padahal gurunya nggak
galak-galak amat lho.
“Iya. Aku anak yang
baik kak. Menuruti cakap Bunda supaya tidur cepat.”
Aku mendengus. Hafiz
bermaksud menyindirku ya?
Sejenak lengang di
kamar. Aku membaca komik lagi. Persis saat aku sedang membaca komik dengan
adegan menemukan mayat, kepalaku segera di penuhi baying-bayang seram,
memunculkan ketakutan lagi. Sepertinya yang Ayah katakan tadi siang benar. Aku
meletakkan komik di rak. Kalau begini aku harus paksakan diri untuk tidur.
Lima menit… Sepuluh
menit… Lima belas menit… Dua puluh menit… Aku belum juga melakukan teleportasi
ke dunia mimpi! Suara detak jam dinding di ruang tamu terdengar keras di antara
senyap. Aku sudah memejamkan mata, berdo’a dan berusaha untuk tidur. Malah yang
ada mengkhayal-khayal nggak jelas, bahkan bernostalgia.
Tiba-tiba pintu kamar
di buka. Aku menoleh sigap. Itu Bunda.
“Kok belum tidur, Ni?”
Bunda bertanya seraya mematikan lampu kamar. Seketika seluruh ruangan menjadi
gelap. “Jangan hidupkan lampunya. Kan Bunda selalu bilang, lampu itu ada
radiasi listriknya.”
“Eh, jangan di matikan
dulu ya, Bun, habis Dania belum bisa tidur. Tadi kan, Dania tidur siang,” aku
memohon.
“Jadi mau tidur sampai
kapan? Bisa-bisa kamu bangun kesiangan kan?” Bunda teguh pada pendiriannya.
“Tapi Dania takut.”
Bunda terdengar
menghela napas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar