Minggu, 23 Oktober 2016

THE HIDDEN WORLD



CHAPTER 1 :

Senin, 12 Januari.
“Huaamm…” aku membuka lebar mulut, lantas lekas menutup mulut. Lalu menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi.  Pagi-pagi buta begini aku sudah bangun karena mama daritadi teriak marah-marah membangunkanku dari lantai bawah. Padahal anak-anak seusiaku biasa bangun pukul enam. Tidakkah mama memberiku waktu satu jam saja untuk bermimpi lagi?
                “Kau tidak memikirkan sholatmu?” mama melotot, saat aku sudah turun ke lantai bawah, memprotes.
                “Kan, bisa jam 6 sih, Ma,” kilahku, menyampirkan handuk di bahu, hendak mandi.
                “Sholat tepat waktu kan, lebih baik Dri! Kamu mau ikut teman-temanmu yang melalaikan sholat? Kamu tidak malu pada Allah yang sudah memberimu kepintaran, rezeki dan nikmat lainnya, Dri?” mama menceramahiku sambil terus mengaduk nasi goreng . Sebenarnya, nasihat itu agak tersentuh di hati sih. Tapi karena aku masih mengantuk dan suasana hatiku sedang  tidak baik, jadi agak kesal di marahi.
                “Iya, iya,” kataku pelan. Lantas masuk ke kamar mandi.
                Pancuran air terdengar keluar.
***
Usai sholat, aku yang sudah mengenakan seragam merah putih sekolah, segera turun ke ruang makan.
Disana terlihat kakak, yang baru selesai mandi. “Selamat pagi, Dri,” kakak menyapaku. Aku membalas pendek. Kakak sebenarnya sudah sholat. Dia memang suka mandi belakangan setelah melaksanakan sholat.
 Mama juga disana, sedang membereskan peralatan masak. Aku menarik kursi.Di meja makan, sudah terhidang semangkuk besar nasi goreng. Selama sholat, aroma sedap nasi goreng sudah menggoda hidungku. Empat piring tertata rapi di meja, bersama sendok dan garpu. Air putih sudah tertuang, juga segelas susu putih—khusus untukku dan kakak.
Papa dan kakakku belum turun juga. Aku tak sabar menyendok besar nasi goreng ke piring.  Kurasa apa salahnya makan duluan sebelum semua keluarga kumpul?
“Jangan di habiskan nasi gorengnya, Dri. Aku juga mau,”  kakak turun, tertawa melihat piringku yang  penuh oleh nasi goreng. Aku melirik sekilas, tak peduli. Nasi goreng ini enak sekali.
“Nasi gorengnya mama buat banyak, kok. Tidak usah cemas, Bil,” kata mama sambil tersenyum. Mama mengelap tangannya yang basah dengan serbet. Pekerjaannya selesai.
                “Papa mana, ma?” tanya kakak, duduk di kursinya, menyendok nasi goreng ke piring. Porsinya tidak sebanyak porsiku.
                “Masih di kamar mungkin. Papa masih sibuk berkutat dengan laptop,” kata mama, kali ini wajahnya terlihat sebal. “Sementang libur. Tapi setidaknya jangan menyampingkan soal makan. Mama sudah memarahinya, tapi Papa tetap saja teguh pendirian, bilang sebentar lagi, sebentar lagi.” Mama menirukan suara Papa, mirip sekali. Aku dan kakak tertawa. Fokusku pada makanan pecah sekarang.
                Papaku hobi sekali blogging di internet. Karena itu untuk menghemat biaya, Papa memutuskan untuk memasang jaringan WiFi di rumah. Itu pun harus membujuk-bujuk Mama setengah mati, karena Mama orang yang sangat penghemat. Mama membeli sesuatu yang mahal jika benar-benar di butuhkan.Contohnya mobil. Dan menurut Mama memasang WiFi di rumah itu tidak penting. Buat apa 1 juta rupiah di buang hanya untuk berinternet ria? Lebih baik membereskan rumah, atau mengajak anak jalan-jalan. Begitu kata Mama saat Papa terus meminta. “Ini sungguh-sungguh penting, Ma. Papa bukan untuk berinternet yang tidak berguna. Lihat saja. Suatu hari Papa akan memperlihatkan keuntungan yang Papa dapat dari blogging,” Papa meyakinkan Mama. Saat itu Mama tertawa geli mendengar alasan Papa.
                Tapi pada akhirnya Mama setuju. Papa membuat perjanjian. Jika mama setuju memasang WiFi di rumah, Papa tidak akan beli barang-barang yang nggak penting lagi, tidak akan telat sarapan, dan akan rajin bantu rumah selepas kerja. Semuanya di tepati sih, kecuali tidak akan telat sarapan. Buktinya sampai sekarang papa tak kunjung turun.
                Aku meletakkan sendok, kemudian meneguk cepat susu. Aku sudah siap makan. Di antara keluarga aku yang paling cepat siap makan. Tapi aku tidak rakus. Aku sebal jika ada yang mengataiku rakus. Aku hanya punya selera makan yang tinggi, bukan rakus.
                “Alhamdulillah,” kakak juga siap, kemudian meneguk susunya, mengikuti perilakuku.
                Mama menoleh padaku. “Kamu tidak ucapkan Alhamdulillah seperti kakak juga?”
                “Eh iya, lupa. Alhamdulillahirobbil’alamin,” aku buru-buru mengucap. Bisa-bisa Mama segera menasihatiku lagi.
                Meski kami anak laki-laki, Mama mewajibkan kami untuk mencuci piring, gelas dan sendok setiap habis makan. Mama tidak seperti ibu-ibu lainnya, yang hanya maklum melihat kemalasan anak laki-lakinya dalam mencuci piring, atau menyapu kamar. “Biasalah, bu, namanya anak laki-laki,” begitu yang di ucapkan ibu-ibu lain. Tapi Mama tidak setuju dengan pendapat itu. Mama menyuruh tegas, entah itu laki-laki atau perempuan, tetap harus pandai bekerja. “Toh, kalian nanti juga bakal menjadi ayah. Jadi dari kecil harus di biasakan,” Mama melotot kami, yang ogah-ogahan mencuci piring waktu itu.
                Aku anak paling kecil, tapi sepertinya Mama tak pernah memanjakanku. Aku selalu di nasihati, di teriaki, sama seperti kakak. Tapi bukan berarti aku benci Mama. Yang penting, Mama tak pernah memukul atau menjewerku. Aku dan kakak hanya di pelototi (pelototan Mama mengerikan dilihat).
                Dengan hati-hati aku meletakkan piring di raknya. Sesudah aku, giliran kakak yang cuci piringnya sendiri. Aku bergegas mengambil tas dan memakai sepatu. Lalu duduk di kursi teras menunggu bis sekolah datang. Sehari-hari aku memang biasa pergi sekolah dengan bis—habis, Papa terlalu asyik blogging sendiri. Lagipula, aku lebih suka naik bis daripada di antar naik mobil bersama Papa. Kenapa? Ada banyak temanku di bis. Tentu saja lebih menyenangkan.
                Bis datang kemudian ketika kakak baru saja siap memakai sepatunya. Bis meng-klakson kami dua kali, menyuruh cepat. Aku dan kakak lekas menaiki bis, khawatir si Kondektur akan marah-marah kalau kami terlambat meski sedetik. Mama segera keluar ke teras begitu mendengar suara klakson bis, buat apa lagi kalau bukan untuk melambai kami. Kondektur yang melihat mama lantas melirikku dan kakak. “Hei, Mama kalian melambai, tuh,” Kondektur memberitahu datar. Aku dan kakak tersenyum, balas melambai dari balik jendela bis.
                Bis segera meninggalkan rumah, melaju menuju sekolah. Jendelanya membiarkan kami menatap pemandangan kota yang sudah biasa di lihat. Melewati perumahan, kendaraan, dan pepohonan.  Pagi ini agak mendung, sehingga lampu jalan masih di biarkan menyala. Aku terus focus memandang keluar jendela, begitu juga dengan anak-anak lainnya. Sementara kakak asyik mengobrol dengan teman. Entah apa yang mereka obrolkan, tentang atomlah, elektronlah—duh, aku sama sekali tidak tertarik memikirkannya.
                Kakakku dan aku memiliki banyak perbedaan. Dia berkacamata sedang aku tidak. Dia pintar sedang aku tidak. Dia yang paling rajin sedang aku tidak terlalu. Kakak juga sering menjadi juara kelas, atau menjadi juara pada perlombaan tertentu. Aku? Jangan tanya. Malah sebaliknya. Tidak pernah menjuarai apapun, selalu mendapat nilai buruk di setiap pelajaran. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar