CHAPTER 1 :
Senin, 12 Januari.
“Huaamm…” aku membuka lebar mulut, lantas lekas menutup
mulut. Lalu menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Melirik jam dinding yang
menunjukkan pukul lima pagi. Pagi-pagi
buta begini aku sudah bangun karena mama daritadi teriak marah-marah
membangunkanku dari lantai bawah. Padahal anak-anak seusiaku biasa bangun pukul
enam. Tidakkah mama memberiku waktu satu jam saja untuk bermimpi lagi?
“Kau
tidak memikirkan sholatmu?” mama melotot, saat aku sudah turun ke lantai bawah,
memprotes.
“Kan,
bisa jam 6 sih, Ma,” kilahku, menyampirkan handuk di bahu, hendak mandi.
“Sholat
tepat waktu kan, lebih baik Dri! Kamu mau ikut teman-temanmu yang melalaikan
sholat? Kamu tidak malu pada Allah yang sudah memberimu kepintaran, rezeki dan
nikmat lainnya, Dri?” mama menceramahiku sambil terus mengaduk nasi goreng .
Sebenarnya, nasihat itu agak tersentuh di hati sih. Tapi karena aku masih
mengantuk dan suasana hatiku sedang
tidak baik, jadi agak kesal di marahi.
“Iya,
iya,” kataku pelan. Lantas masuk ke kamar mandi.
Pancuran
air terdengar keluar.
***
Usai sholat, aku yang sudah mengenakan seragam merah putih
sekolah, segera turun ke ruang makan.
Disana terlihat kakak, yang baru
selesai mandi. “Selamat pagi, Dri,” kakak menyapaku. Aku membalas pendek. Kakak
sebenarnya sudah sholat. Dia memang suka mandi belakangan setelah melaksanakan
sholat.
Mama juga disana, sedang membereskan peralatan
masak. Aku menarik kursi.Di meja makan, sudah terhidang semangkuk besar nasi
goreng. Selama sholat, aroma sedap nasi goreng sudah menggoda hidungku. Empat
piring tertata rapi di meja, bersama sendok dan garpu. Air putih sudah tertuang,
juga segelas susu putih—khusus untukku dan kakak.
Papa dan kakakku belum turun
juga. Aku tak sabar menyendok besar nasi goreng ke piring. Kurasa apa salahnya makan duluan sebelum
semua keluarga kumpul?
“Jangan di habiskan nasi
gorengnya, Dri. Aku juga mau,” kakak
turun, tertawa melihat piringku yang
penuh oleh nasi goreng. Aku melirik sekilas, tak peduli. Nasi goreng ini
enak sekali.
“Nasi gorengnya mama buat banyak,
kok. Tidak usah cemas, Bil,” kata mama sambil tersenyum. Mama mengelap tangannya
yang basah dengan serbet. Pekerjaannya selesai.
“Papa
mana, ma?” tanya kakak, duduk di kursinya, menyendok nasi goreng ke piring.
Porsinya tidak sebanyak porsiku.
“Masih
di kamar mungkin. Papa masih sibuk berkutat dengan laptop,” kata mama, kali ini
wajahnya terlihat sebal. “Sementang libur. Tapi setidaknya jangan menyampingkan
soal makan. Mama sudah memarahinya, tapi Papa tetap saja teguh pendirian,
bilang sebentar lagi, sebentar lagi.” Mama menirukan suara Papa, mirip sekali.
Aku dan kakak tertawa. Fokusku pada makanan pecah sekarang.
Papaku
hobi sekali blogging di internet.
Karena itu untuk menghemat biaya, Papa memutuskan untuk memasang jaringan WiFi
di rumah. Itu pun harus membujuk-bujuk Mama setengah mati, karena Mama orang
yang sangat penghemat. Mama membeli sesuatu yang mahal jika benar-benar di
butuhkan.Contohnya mobil. Dan menurut Mama memasang WiFi di rumah itu tidak
penting. Buat apa 1 juta rupiah di buang hanya untuk berinternet ria? Lebih
baik membereskan rumah, atau mengajak anak jalan-jalan. Begitu kata Mama saat
Papa terus meminta. “Ini sungguh-sungguh penting, Ma. Papa bukan untuk
berinternet yang tidak berguna. Lihat saja. Suatu hari Papa akan memperlihatkan
keuntungan yang Papa dapat dari blogging,”
Papa meyakinkan Mama. Saat itu Mama tertawa geli mendengar alasan Papa.
Tapi
pada akhirnya Mama setuju. Papa membuat perjanjian. Jika mama setuju memasang
WiFi di rumah, Papa tidak akan beli barang-barang yang nggak penting lagi,
tidak akan telat sarapan, dan akan rajin bantu rumah selepas kerja. Semuanya di
tepati sih, kecuali tidak akan telat sarapan. Buktinya sampai sekarang papa tak
kunjung turun.
Aku
meletakkan sendok, kemudian meneguk cepat susu. Aku sudah siap makan. Di antara
keluarga aku yang paling cepat siap makan. Tapi aku tidak rakus. Aku sebal jika
ada yang mengataiku rakus. Aku hanya punya selera makan yang tinggi, bukan
rakus.
“Alhamdulillah,”
kakak juga siap, kemudian meneguk susunya, mengikuti perilakuku.
Mama
menoleh padaku. “Kamu tidak ucapkan Alhamdulillah seperti kakak juga?”
“Eh
iya, lupa. Alhamdulillahirobbil’alamin,” aku buru-buru mengucap. Bisa-bisa Mama
segera menasihatiku lagi.
Meski
kami anak laki-laki, Mama mewajibkan kami untuk mencuci piring, gelas dan
sendok setiap habis makan. Mama tidak seperti ibu-ibu lainnya, yang hanya
maklum melihat kemalasan anak laki-lakinya dalam mencuci piring, atau menyapu
kamar. “Biasalah, bu, namanya anak laki-laki,” begitu yang di ucapkan ibu-ibu
lain. Tapi Mama tidak setuju dengan pendapat itu. Mama menyuruh tegas, entah
itu laki-laki atau perempuan, tetap harus pandai bekerja. “Toh, kalian nanti
juga bakal menjadi ayah. Jadi dari kecil harus di biasakan,” Mama melotot kami,
yang ogah-ogahan mencuci piring waktu itu.
Aku
anak paling kecil, tapi sepertinya Mama tak pernah memanjakanku. Aku selalu di
nasihati, di teriaki, sama seperti kakak. Tapi bukan berarti aku benci Mama.
Yang penting, Mama tak pernah memukul atau menjewerku. Aku dan kakak hanya di
pelototi (pelototan Mama mengerikan dilihat).
Dengan
hati-hati aku meletakkan piring di raknya. Sesudah aku, giliran kakak yang cuci
piringnya sendiri. Aku bergegas mengambil tas dan memakai sepatu. Lalu duduk di
kursi teras menunggu bis sekolah datang. Sehari-hari aku memang biasa pergi
sekolah dengan bis—habis, Papa terlalu asyik blogging sendiri. Lagipula, aku
lebih suka naik bis daripada di antar naik mobil bersama Papa. Kenapa? Ada
banyak temanku di bis. Tentu saja lebih menyenangkan.
Bis
datang kemudian ketika kakak baru saja siap memakai sepatunya. Bis meng-klakson
kami dua kali, menyuruh cepat. Aku dan kakak lekas menaiki bis, khawatir si
Kondektur akan marah-marah kalau kami terlambat meski sedetik. Mama segera
keluar ke teras begitu mendengar suara klakson bis, buat apa lagi kalau bukan
untuk melambai kami. Kondektur yang melihat mama lantas melirikku dan kakak.
“Hei, Mama kalian melambai, tuh,” Kondektur memberitahu datar. Aku dan kakak
tersenyum, balas melambai dari balik jendela bis.
Bis
segera meninggalkan rumah, melaju menuju sekolah. Jendelanya membiarkan kami
menatap pemandangan kota yang sudah biasa di lihat. Melewati perumahan,
kendaraan, dan pepohonan. Pagi ini agak
mendung, sehingga lampu jalan masih di biarkan menyala. Aku terus focus
memandang keluar jendela, begitu juga dengan anak-anak lainnya. Sementara kakak
asyik mengobrol dengan teman. Entah apa yang mereka obrolkan, tentang atomlah,
elektronlah—duh, aku sama sekali tidak tertarik memikirkannya.
Kakakku
dan aku memiliki banyak perbedaan. Dia berkacamata sedang aku tidak. Dia pintar
sedang aku tidak. Dia yang paling rajin sedang aku tidak terlalu. Kakak juga
sering menjadi juara kelas, atau menjadi juara pada perlombaan tertentu. Aku?
Jangan tanya. Malah sebaliknya. Tidak pernah menjuarai apapun, selalu mendapat
nilai buruk di setiap pelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar